Kerja Keras Dinas Perhubungan Kota Medan (?)

Pagi ini ketika menikmati keluh kesah dari kak Noni di wordpressnya soal PLN, terus ujung-ujungnya jadi baca link tentang Medan yang dapat piala WTN kategori lalu lintas. Pas baca jadi agak heran deh, koq bisa Medan dapat piala itu? Separah itu kah lalu lintas di Indonesia sampai Medan menjadi yang terbaik di bidang lalu lintas kota metropolitan?

Gara-gara mati lampu belakangan ini, gak cuma rumah, kantor dan tempat-tempat umum yang kebagian jatah menanggung rugi PLN yang dikorupsi petingginya, lampu merah pun gak ketinggalan. Kebayang dong gimana kalau lampu merah yang selama ini diandalkan buat lalu lintas mati? Lampu merahnya gak mati aja, gak sedikit pengendara sepeda motor maupun mobil dari yang termurah sampai yang termahal melewati garis batas. Mereka seakan-akan ikut lomba balapan, gas sampe full, begitu lampunya kuning, mereka langsung jalan. Kalau yang di depan gak langsung jalan, diklakson terus sampai si pelaku klakson ini bisa jalan.

Ok, ini masih salah si PLN deh, tapi dimana polantas dan dishub yang sangat amat berjasa dan bekerja keras itu? Nyaris tak nampak batang hidungnya! Saya katakan nyaris karena sebagian polisi masih berdiri menyaring orang-orang yang bisa dijadikan tumbal, sebagian polisi lain mengerjakan kewajibannya membantu lalu lintas kota Medan. Belum lagi jalan-jalan yang bisa jadi kolam susu kalau hujan, tepatnya kolam susu milo. Yang paling aneh yang pernah saya temui, DisHub Medan ini sama sekali tidak memperhatikan pejalan kaki. Memang sih di Medan berapa lah yang jalan kaki dibandingkan dengan yang menggunakan kendaraan, tapi coba pikirkan turis-turis yang kebingungan bagaimana menyebrang di Medan? Saya beri ilustrasi, bayangkan ada suatu perempatan jalan, jalur depan kita beri nama jalur A, jalur belakang kita beri nama jalur B, jalur kiri jadi jalur C, jalur kanan kita beri nama jalur D. biasa kan kalau ditengah-tengah perempatan itu ada lampu lalu lintas toh? Anggaplah jalan-jalan ini semuanya searah, jadi lampu lalu lintas hanya 2. Di dekat lampu lalu lintas kan pasti ada zebracross untuk para pejalan kaki menyebrang, jadi kalau lampu lalu lintasnya menunjukkan warna merah, seharusnya pejalan kaki ini bisa menyebrang, tapiiii… ada aturan dimana kalau pengguna kendaraan mau belok ke kiri, tanpa perlu memperhatikan lampu lalu lintas, dia bisa langsung belok, coba bayangkan bagaimana si pejalan kaki ini bisa menyebrangi jalan?

Jadi, ini yang dikatakan pantas mendapat piala WTN kategori lalu lintas? Ini yang terbaik diantara kota-kota metropolitan? Ini yang dikatakan telah bekerja keras? Wow, bangga banget saya sekarang sedang menetap di kota yang mendapat piala WTN kategori lalu lintas dimana dishub dan polisi lalu lintas telah bekerja keras supaya kota ini dapat mendapatkan penghargaan.

Terima kasih pak polisi lalu lintas, terima kasih pak petugas dishub!

Advertisements

2 thoughts on “Kerja Keras Dinas Perhubungan Kota Medan (?)

  1. hihihihi ini sarkas yaaa kan šŸ™‚
    kalo disuruh buat tulisan tentang jalanan di kota medan, gampang banget deh karena sebenarnya isinya cuman kejelekannya melulu. mulai dari rambu2 jalan yg gak jelas, pengendara yang gak ikut aturan + egois ngangap dirinya paling penting + trotoar jalan yang gak ada dll
    anehnya koq bisa menang? ajaib banget ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s