Selama di Medan…. (Part 2)

Episode 2 : Belajar kosakata ala Medan

Kemarin-kemarin saya mendengar satu kalimat dari rekan kerja saya kalau “Medan itu Indonesia yang sebenarnya versi mini”.

Di Medan itu ada suku batak (pastinya), melayu dan etnis chinese juga jawa dan harus angkat topi buat orang-orang Medan yang (kayanya) tidak pernah terdengar ada perang antar suku. Oke, mungkin perang antar suku terlalu lebay, lebih cocok tidak pernah terdengar ribut-ribut antar suku. Ya, mungkin menjelekkan di belakang tetap ada, tapi (lagi, kayanya) tidak pernah sampai ke permukaan tuh. Karena banyak suku-suku, bahasanya jadi beragam dan jadi muncul istilah-istilah khas Medan deh.

1. Pajak
Kebetulan di dekat rumah saya ada pasar, perpustakaan daerah dan kantor pemerintahan juga. Suatu ketika tante saya minta tolong sama saya buat beli sayur di pajak, sebenarnya saya dengar dengan jelas “tolong beli sayur di pajak” tapi saya kira dia salah ngomong, jadi saya tanya “mau bayar pajak apa? aku gak pernah bayar pajak, gak ngerti” eh terus tanteku bilang “siapa yang suruh lu bayar pajak? beli sayur di pajak!” terus saya makin bingung deh “beli sayur di kantor pajak?”. Ternyata pajak  itu pasar !

2. Pasar
Di Medan itu ada istilah jalan seperti Jl. Marelan pasar V, Jl. Pinang Baris II pasar IV dan sebagainya. Dulu saya kira, di jalan-jalan tersebut pasarnya banyak, ada pula jalan yang keterangan pasarnya sampai 8. Saya sempat terpikir, ini kota banyak banget pasarnya. Eh ternyata memang di jalan-jalan tertentu, pasarnya memang banyak. pasar itu artinya jalan besar atau jalan raya.

3. Galon
Yang ini saya merasa paling ditipu. Dulu kan saya sama sekali tidak mengerti jalan-jalan di kota Medan, karena ada panggilan interview, saya minta om saya buat bikinin peta kecil-kecilan gitu buat jadi petunjuk jalan saya selama mengendarai sepeda motor. Saya sudah mengikuti peta yang dibuat om saya, tapi si nyasar tetap saja menghinggapi saya, jadi saya tanya-tanya deh sama orang-orang, “Bang, kalau mau ke jalan katamso lewat mana ya?” terus abang itu dengan senang hati menjawab pertanyaan saya “oh, lurus terus dek, ada galon belok kanan”. Jadi saya menelusuri jalan tersebut, luruuuuuuuuuuuuuuuuuuussssss terus, gak ada yang jual galon / isi ulang air mineral dan sejenisnya bapak-bapak ibu-ibu. Saya sampai hampir putus asa bolak balik jalan itu, jadi saya berhenti di depan SPBU, dan saya tanya “Pak, galon dimana ya pak?” terus dijawab “ini galon dek” sambil menunjuk SPBU di samping saya. Saya gak usah menjelaskan lebih lanjut deh ya.

4. Padi dan Mandi
Kemarin-kemarin adiknya papa saya ke Medan dan menginap di rumah tante yang saya tumpangi sekarang. Biasanya kalau orang ke Medan kan tidak jauh-jauh dari wisata kuliner, jadi berangkatlah kita ke salah satu tempat makan di Medan. Budaya keluarga kami, makan boleh mewah, minumnya tetap teh atau air putih. Rasanya sayang saja beli jus-jus dengan harga yang selangit. Setelah pesan makanan yang diinginkan, kita pesan deh minuman masing-masing. “Padi 2, mandi 2, teh tong 1, kamu mau minum apa?” kata om saya ke adiknya papa saya ini. Dia bingung deh, “ada jus padi? baru tau, mau coba deh, tapi bau gak?” muncul deh keisengan saya, “enak koq, murah meriah lagi, coba aja!”. Pas padi sama mandinya datang, semuanya teh, terus adiknya papaku ini bilang ke mbak-mbaknya, “kita pesan padi, bukan es teh”. Ketawa deh kita, mbak-mbaknya bilang “padi itu pahit dingin, mandi itu manis dingin, kak”.  Kasian tanteku ini, ditipu keluarga sendiri, hihihihi.

5. Ajo
Di depan tempat bekerja saya yang lama, ada warung makan gitu. Yang jualan di warung makan itu biasanya dipanggil “Ajo”, satu waktu saya ke rumah makan yang lain, dan teman kerja saya panggil “Ajo” juga ke penjual itu. “Kakak kenal sama yang jualan?” tanya saya, “Nggak juga” jawabnya. Waktu itu saya kira “ajo” itu nama orang jadi saya tanya deh “Di Medan banyak yang pakai nama ‘Ajo’ ya, abang ini namanya sama dengan yang di dekat kantor”. Pas dengar itu si “ajo” ini senyum-senyum gitu, saya jadi curiga deh, eh ternyata ajo itu artinya abang.

Ada yang punya pengalaman sejenis?

Advertisements

5 thoughts on “Selama di Medan…. (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s